ANAK JENDRAL TERTANGKAP TILANG - KISAH NYATA

ANAK JENDRAL TERTANGKAP TILANG - KISAH NYATA

27 Jan 2019


KISAH LUCU ini adalah kisah nyata. Hanya saja nama pelaku disini disamarkan. Nama dari pengendara motor ini kita sebut saja Pravs .

Sewaktu akan jalan ke kantor, Pravs mengendarai motor pagi hari tergesa-gesa hampir kesiangan masuk ke jalan Thamrin.

Waktu itu Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman tidak seperti saat ini, dulu memiliki pembatas taman memanjang yang indah tidak gersang dan kering seperti saat ini.

Sekarang pembatas taman indah tersebut dihilangkan demi kenyamanan pengguna mobil di jalan tersebut.

Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin memiliki pembatas jalur cepat dan jalur lambat dimana sisi taman pembatas sebelah kanan adalah jalur cepat. Motor dilarang masuk jalur sebelah kanan ini.






Waktu itu jalan sisi sebelah kiri macet, selepas dari Jalan Sudirman ke Jalan Thamrin motor masuk ke jalur kanan dan ditangkap polisi tepat di bunderan HI.

Polisi: Mas, selamat pagi (sambil memberikan hormat).

Pravs: Selamat pagi Pak Polisi (memberi hormat juga).

Polisi: Mas, tidak boleh masuk ke jalur kanan jalur cepat. Saya harus memeriksa kelengkapan,… apakah punya SIM? Coba saya cek.

Pravs: Baik Pak Polisi, ini SIM saya.

Polisi: Mas, nanti saya kasih surat tilangnya karena melanggar ketentuan.

Pravs: Pak Polisi, boleh meminta keringanan. Ayah saya mungkin bisa memberi rekomendasi agara saya keringanan juga?

Polisi: Ayahnya Mas kenapa bisa memberikan keringanan?

Pravs: Ayah saya jendral,… Mungkin Bapak bisa memberi saya keringanan?

Polisi: Mas bukannya begitu (Pak Polisi menjawab dengan lebih lunak), ini masalahnya pelanggaran. Pelanggaran harus ditindak.

Pravs: Mungkin khusus saya bisa dapat keringanan Pak (sambil membuat tekanan yang mantap dan meyakinkan).

Polisi: Mas bukannya begitu, tidak bisa. Mohon maaf

Pak Polisi berjalan tidak mau menggubris protes dari Pravs. Seketika sewaktu mau menulis surat tilang, Pak Polisi ini balik kembali bertanya.

Polisi: Mas mohon maaf tidak bisa saya kecualikan, saya tetap akan membuat surat tilang.

Dan ada pertanyaan,

Polisi: Mas Bapaknya yang Jendral siapa ya? Mungkin saya boleh kenal?

Pravs: Bukan urusan Pak, tulis saja surat tilangnya (sesudah Pravs mengetahui keyakinan Pak Polisi tersebut untuk menulis surat tilang akhirnya Pravs tidak mau protes lagi).

Polisi: Bukan Mas, ini masalah pencatutan nama. Siapa nama ayah panjenengan yang jendral tersebut?

Pravs: Tulis saja surat tilangnya,… jangan nanya-nanya yang tidak perlu Pak (dengan cukup ketus)

Polisi: Mas, ini pertanyaan serius. Tidak boleh mempermainkan seperti itu. Jika salah melanggar, kewajiban saya sebagai petugas harus menghukum pelanggar.

Pravs: Tulis saja surat tilangnya Pak (lebih ketus lagi)

Polisi: Mas, ini pertanyaan serius. Siapa ayahnya Mas? (Pak Polisi masih tenang dan sangat mengejar jawaban)

Akhirnya Pravs terdesak dan merasa harus menjawab

Polisi: Mas, siapa ayahnya Mas?

Pravs: JENDRAL SUDIRMAN,…. Jendral besar Bapak kita semua (sambil mengacungkan tinju dengan semangat membara).



Pak Polisi memberikan hukuman tambahan, Pravs harus bernyanyi tiga buah lagu perjuangan dengan keras dan lantang di pinggir jalan di kolam Bunderan HI sedikit basah.

Berita dari Pravs (teman yang ditangkap). Thanks ceritanya, masih segar sepertinya padahal sudah lama sekali.