LAPORAN LENGKAP PARLEMEN INGGRIS TERKAIT SKANDAL DATA FACEBOOK

LAPORAN LENGKAP PARLEMEN INGGRIS TERKAIT SKANDAL DATA FACEBOOK

19 Feb 2019

PARLEMEN INGGRIS (House of Common) baru saja mengeluarkan data mengenai skandal data yang dilakukan oleh Facebook.


Dalam laporan yang dikeluarkan pada 18 Februari 2019 dengan tebal 108 halaman ini memastikan bahwa kepentingan keuntungan bagi perusahaan jauh diatas privasi penggunanya.

Facebook menerapakan program yang dapat mengumpulkan data pribadi dari pengguna Facebook dati posting, terkait pendapat mengenai suatu halaman/posting, data terkait ulang tahun, alamat tempat yang didiami (bahkan hingga lokasi hotel jika menginap di luar rumah).

Data-data ini kemudian di proses dan untuk bahan masukan baik untuk pemasaran produk bahkan kemudian terbukti digunakan pembeli data untuk mengetahui dan membentuk opini politik.

Program ini merupakan hasil ide dari seorang ilmuwan data bernama Aleksandr Kogan, seorang ilmuwan data Universitas Cambridge. Ilmuwan ini membuat aplikasi bernama Cambridge Analytica.

Tidak heran jika panen data dan penjualan data ini kemudian disebut sebagai Skandal Data Cambridge Analytica. Penjualan data ini sangat besar karena melibatkan jumlah pengguna Facebook yang sangat besar. Diperkirakan antara 30 juta pengguna hingga 87 juta pengguna dipanen dan dijual datanya. Setidaknya ada sekitar lebih dari 1 juta pengguna Facebook dari Indonesia yang juga terkena dampak penggunaan data ini. Dari analisis yang dilakukan pakar teknologi informasi, teman dan teman dari teman yang terkena panen data juga bisa dikumpulkan datanya. Facebook saat ini memiliki sekitar 2.2 miliar pengguna. Potensi pasar, iklan dan data yang sangat besar.

Dengan data dan pengguna sebesar itu, tidak heran jika propaganda dapat diterapkan dengan cukup berhasil jika dipakai di Facebook. Salah satu keberhasilan Facebook terlihat pada berita palsu saat Pemilu yang membantu Donald Trump terpilih.



Laporan ini berisi berbagai kritik yang sangat keras dan jelas terkait tingkah laku Facebook yang melupakan kepentingan pengguna.

Facebook   has   continually   hidden   behind   obfuscation.   The   sealed   documents   contained internal emails, revealing the fact that Facebook’s profit comes before anything else.  When  they  are  exposed,  Facebook  “is  always  sorry,  they  are  always  on  a  journey”,  as  Charlie  Angus,  MP  (Vice-Chair  of  the  Canadian  Standing  Committee  on  Access  to  Information,  Privacy  and  Ethics,  and  member  of  the  ‘International  Grand  Committee’)  described them.143 Facebook continues to choose profit over data security, taking risks in order to prioritise their aim of making money from user data.

Khusus terkait perlindungan pengguna dari berita palsu, Facebook menyebutkan saat ini sudah memiliki pegawai berjumlah 3 kali lipat dari sebelumnya menjadi 30 ribu pegawai yang bertujuan untuk memilah data dan berita palsu. Saat ini Facebok juga sedang menerapkan AI (Artificial Intelligent) untuk menyaring berita palsu ini.

Untuk melihat laporan resmi dari parlemen Inggris maka dapat mengunjungi situs ini.