NASA, SPACEX & SWASTA LAIN KERJA SAMA PENGEMBANGAN LUAR ANGKASA

NASA, SPACEX & SWASTA LAIN KERJA SAMA PENGEMBANGAN LUAR ANGKASA

1 Agu 2019

SPBL mungkin bisa menjadi singkatan bagi rencana NASA dan SPACEX di masa depan, Stasiun Pengisian Bahan Bakar di Luar Angkasa. Rencana SPBL ini berhubungan erat dengan Program Artemis.


NASA saat ini sangat gencar dengan berbagai program terutama dengan Program Artemims dan sudah secara aktif memilih rekanan yang siap. Pemilihan rekanan dilakukan dengan seleksi terhadap 19 perusahaan terkait kegiatan luar angkasa dan 13 diantaranya dipilih menjadi rekanan NASA untuk Program Artemis.

Apa itu Program Artemis?

NASA berencana mengirimkan astronot ke bulan di tahun 2024 dan pada program pengiriman astronot tersebut tujuannya kunjungan berbeda dari studi dan waktu kunjungan yang tidak sebentar. Dalam Program Artemis, astronot diharapkan di bulan untuk jangka waktu yang jauh lebih lama dari pada misi sebelumnya dengan berbagai studi yang sangat komprehensif. Kunjungan ke bulan ini akan berupa hasil kerja sama dengan rekanan swasta dengan NASA dimana berikutnya NASA juga bisa mengirim astronot ke MARS.

NASA is committed to landing American astronauts, including the first woman and the next man, on the Moon by 2024. Through the agency’s Artemis lunar exploration program, we will use innovative new technologies and systems to explore more of the Moon than ever before. We will collaborate with our commercial and international partners to establish sustainable missions by 2028. And then we will use what we learn on and around the Moon to take the next giant leap – sending astronauts to Mars.

Program Artemis ini akan bertahap memiliki tujuan agar terjadi pengembangan teknologi dan bisnis yang lebih mumpuni oleh NASA. Program ini juga bertujuan agar Amerika menjadi pihak terdepan dalam misi-misi luar angkasa dan dapat berkembang juga untuk tujuan bisnis komersil secara internasional.

With the Artemis program we will:

    Demonstrate new technologies, capabilities, and business approaches needed for future exploration including Mars;
    Establish American leadership and a strategic presence on the Moon while expanding our U.S. global economic impact;
    Broaden our commercial and international partnerships;
    Inspire a new generation and encourage careers in STEM.


NASA juga sejalan dengan program Artemis memulai memilih 13 perusahaan swasta yang cocok dijadikan rekanan NASA untuk rencana jangka panjang ini. Beberapa tujuan kerja sama dimaksudkan untuk menjawab tantangan-tantangan yang akan dihadapi oleh NASA dalam misi luar angkasa di masa depan.

Advanced Communications, Navigation and Avionics

NASA memerlukan beberapa solusi teknologi yang dapat menjawab kepentingain komunikasi, navigasi dan penerbangan dalam misi di masa depan.

Beberapa pihak seperti   Advanced Space of Boulder, Colorado akan berkolaborasi dengan NASA’s Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Maryland untuk kepentingan navigasi (lunar navigation technologies).

Vulcan Wireless of Carlsbad, California akan mengujicoba CubeSat radio transponder agar sesuai dengan keperluan teknologi masa depan dan cocok dengan sistem NASA (compatibility with NASA’s Space Network).

Advanced Materials

Tentu saja misi ke luar angkasa juga akan membutuhkan teknologi mateial yang lebih canggih.    Aerogel Technologies di Boston akan bekerja sama dengan badan NASA bernama Glenn Research Center di Cleveland untuk membuat flexible aerogels bagi rocket dan bagi aplikasi luar angkasa sejenis. Salah satu tujuan dari kontak ini terlihat dengan adanya pengurangan bising dari mesin roket saat ini hingga 25%.

Lockheed Martin di Littleton, Colorado akan bekerja sama dengan Langley Research Center di Hampton, Virginia untuk mendapatkan hasil lebih maksimal dari metal powders solid-state yang lebih cocok bagi temperatur tinggi (high-temperature environments).

Spirit AeroSystem Inc. di Wichita, Kansasakan bekerja sama dengan Marshall Space Flight Center di Huntsville, Alabama untuk mengetahui batas ketahanan dari penggunaan ulang roket bekas (low-cost reusable rockets manufactured).

Entry, Descent and Landing 

Misi luar angkasa yang juga sangat berat dan menantang adalah sewaktu modul wahana kembali ke bumi hingga mendarat (kondisi entry - descent - landing).

Kejadian terhadap Columbia Shuttle mungkin bisa menjadi referensi bagaimana kecelakaan sewaktu entry - descent - landing menjadi kegiatan yang sangat berbahaya.



Untuk keperluan studi pengembangan teknologi terkait maka NASA memilih Anasphere of Bozeman, Montana bekerja sama dengan Marshall untuk ujicoba generaotr hidrogen (compact hydrogen generator for inflating heat shields).


Bally Ribbon Mills of Bally, Pennsylvania akan melakukan ujicba dan pengembangan thermal testing di Arc Jet Complex dengan NASA’s Ames Research Center di California - Silicon Valley.

Blue Origin yang terletak di Kent, Washington akan bekerja sama dengan NASA’s Johnson Space Center in Houston dan Goddard untuk mematangkan teknologi navigasi luar angkasa.

Spark yang merupakan perusahaan Sierra Nevada Corporation of Sparks akan bekerja sama dengan Langley untuk pengembangan Dream Chaser spacecraft untuk melaksanakan konsep memasuki atmofer Bumi dengan kecepatan tinggi (re-enters Earth’s atmosphere traveling faster than the speed of sound). Perusahaan yang sama juga akan melakukan pengembangan bagi upper stage of a rocket.


SpaceX di Hawthorne, California akan bekerja sama dengan NASA’s Kennedy Space Center untuk pengembangan pendaratan roket di bulan.

In-Space Manufacturing and Assembly

Pihak NASA juga saat ini sedang mempertimbangkan keperluan bagi perkitan dan pembuatan bagian wahana luar angkasa di laur angkasa. Hal ini bisa mempercepat atau membuat kegiatan ekplorasi luar angkasa jauh lebih efisien.

Maxar Technologies di Palo Alto, California akan mengembangkan prototip bagi peralatan elektronik dan bagian wahana yang dapat dipasang di orbit. Misi luar angkasa sangat memiliki keterbatasan ruang dan beban yang dapat diangkut ke orbit.

Power

NASA memilih  Blue Origin untuk bekerja sama dengan Glenn and Johnson NASA untuk membuat pengembangan bahan bakar yang lebih siap bagi eksplorasi laur angkasa.  Maxar juga akan melakukan ujicoba lightweight solar cells (panel surya ringan) yang lebih efisien di luar angkasa.

Propulsion

Untuk keperluan pengembangan propulsi, NASA memilih  Aerojet Rocketdyne di California untuk pengembangan roket ringan dengan cara proses dan material yang lebih maju teknologinya. Tujuan utama agar misi masa depan lebih murah dan efisien.

Blue Origin, Marshall - Langley juga akan terlibat pengembangan aplikasi high-temperature materials bagi aplikasi mesin berbahan bakar cair bagi pendaratan di bulan.

Colorado Power Electronics Inc. di Fort Collins, Colorado akan mengembangkan thrusters - mesin pendorong yang biasanya dipakai di satelit bagi misi luar angkasa lebihlanjut (deep space missions).

SpaceX juga terlibat bagi pengembangan teknolgi bagi pemindahan bahan bakar di luar angkasa. Pemintahan bahan bakar di luar angkasa ini akan menjadi tantangan baru sehingga roket atau wahana luar angkasa dapat mengisi bahan bakar tanpa perlu ke Bumi dahulu.

Other Exploration Technologies

NASA memilih perusahaan Lockheed Martin bagi keperluan lain yang menunjang misi luar angkasa. Lockheed Martin akan mengembangkan keperluan otomatisasi perjalanan wahana luar angkasa agar dapat diterapkan dengan aman dan efisien kelak (autonomous in-space systems).

We Go: To the Moon and on to Mars. Our generation, the Artemis generation, will explore farther than we've ever gone before. The Artemis program will send the first woman and next man to walk on the surface of the Moon and build a sustainable base to prepare for missions to Mars and beyond.

Tantangan dan perkembangan teknologi luar angkasa terdiri dari berbagai aspek dan tentu saja sangat menarik untuk disimak.