APAKAH PENYEDAP RASA MSG BERBAHAYA?

APAKAH PENYEDAP RASA MSG BERBAHAYA?

3 Feb 2019

MSG atau Monosodium Glutamate sangat terkenal barang penyedap rasa ini terkadang mendapat sebutan lain yang berbeda-beda, terkadang disebut sebagai micin atau vetsin. Penyedap rasa ini diliputi prasangka jelek jika dikonsumsi tidak sedikit.

Tidak heran ada banyak pihak yang menyalahkan kimia ini jika ada hal atau banyak hal yang tidak bisa dimengerti tiba – tiba muncul. Banyak orang menyalahkan MSG jika terasa sakit perut mendadak, pusing yang tidak jelas, susah tidur atau merasa lidahnya aneh sehabis makan snack mengandung MSG.


Apakah MSG berbahaya?

MSG ini bagi kebanyakan orang terutama bule bahkan menjadi suatu Xenophobia  tersendiri mengalahkan Kryptonite bagi Superman (Xenophobia adalah perasaan takut atau tidak suka jika berkunjung atau bertemu orang asing karena impresi hal tertentu yang biasanya ada dari orang/tempat sejenis).

Jika MSG disalahkan maka seolah-olah orang pertama yang iseng melakukan isolasi terhadap rasa ini disalahkan? Dialah Ikeda Kikunae, orang Jepang yang iseng pada tahun 1908.

Beliau adalah professor di Tokyo Imperial University dan menamakan rasa itu sebagai Umami (artinya rasa yang baik, lezat atau setara dengan gurih kalo di dalam bahasa Indonesia).

Menurut suatu studi yang layak dipercaya menyebutkan bahwa prinsipnya MSG tidak berbahaya tetapi dengan catatan, studi ini dilakukan oleh FDA (U.S. Food and Drug Administration) yang merupakan badan yang terkait dengan pemerintah Amerika yang berhubungan dengan makanan. Sehingga sebaiknya orang tidak menyalahkan Ikeda Kikunae karena menemukan MSG.

Di Amerika, pada tahun 1930an, MSG semakin menanjak popularitasnya. Popularitas ini diwarnai fenomena dimana ibu – ibu di Jepang menyukainya dan menyebutnya sebagai lezat atau enak. Bahkan orang-orang Cina yang juga sangat mencintai MSG dan menjadi substitusi pengganti rasa daging bagi orang vegetarian. MSG ini dikemas dengan berbagai nama dagang dan yang paling terkenal dari Jepang memiliki nama Ajinomoto.

Pada kisaran waktu perang dunia tahun 1940an, banyak orang Amerika berkunjung ke restoran Cina dan dari sini pengaruh MSG mulai masuk ke rumah dan restoran di Amerika. Bahkan kemudian Amerika membeli Ajinomoto terbanyak dibanding negara manapun pada kisaran sesudah 1940an.

Pada tahun 1960an perhatian orang tertuju kepada makanan sehat lebih meningkat dibanding sebelumnya di Amerika. Tidak heran jika kemudian isu makanan dengan zat aditif bergaung kuat.

Pada April 1968 terdapat laporan jurnal tentang rasa aneh (keluhan fisik) sesudah memakan makanan Cina kemudian disebut Chinese Restaurant Syndrome. Sesudah jurnal tersebut, secepat kilat MSG disalahkan.

Pada masa Presiden Nixon diadakan permintaan agar makanan aditif ditelaah lebih lanjut dan dari sana status beberapa makanan aditif mendapat status lebih baik (kecuali bahan bahaya seperti sakarin tetap bahaya – laporan detail pada paper terkait).

Is MSG safe to eat?

FDA considers the addition of MSG to foods to be “generally recognized as safe” (GRAS). Although many people identify themselves as sensitive to MSG, in studies with such individuals given MSG or a placebo, scientists have not been able to consistently trigger reactions.

Terkait prasangka mengenai penggunaan MSG, FDA memiliki jawaban dan menyebutkan bahwa para ilmuwan atau ahli makanan saat ini tidak dapat membuktikan MSG bisa menyebabkan reaksi yang jelek.

Pernyataan FDA ini sejalan dengan hasil penelaahan zaman Presiden Nixon bahwa MSG dalam taraf oke tidak berbahaya.

Jika tidak berbahaya kenapa banyak keluhan seperti sakit kepala atau perasaan (perut) tidak enak seperti mau muntah sesudah makan MSG. Hingga saat ini FDA memang masih belum mendapat memastikan apakah karena MSG atau bukan.

Selanjutnya, tidak usah khawatir jika mengkonsumsi MSG (dalam batasan normal) yang harus dikhawatirkan adalah jika mengkonsumsi makanan dengan tingkat kalori dan lemak yang banyak (karena dimasak dengan enak dengan diberi penyedap rasa).